“Arti dari “Mengasihi Musuh” dan “Mengampuni 70×7 Kali””
From July 5th, 2020

Pierre: Kembali kepada definisi mengenai “kasih”, yang berbeda dengan apa yang biasa kita pikirkan, yaitu bukan cuma sekadar emosi, bisa dijelaskan?

Naek: Mengenai “kasih”, cara pandang orang Ibrani dengan orang barat (westerner) relatif sangat berbeda. Orang barat cenderung menekankan perasaan. Tidak heran ketika berkomunikasi dengan sahabat atau keluarga yang berasal dari barat, mereka biasanya akan mengatakan, “How do you feel?”; “I feel good!”; dan lain sebagainya, yang lebih kepada perasaan-perasaan kita. Mereka sangat peka terhadap perasaan, dan saya pikir itu positif.

Akan tetapi kita perlu memahami bahwa dari perspektif Ibrani, kata “mengasihi” lebih kepada mengenai bagaimana kita bertindak, mematuhi, dan melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Di sisi lain, perasaan-perasaan lebih kepada akibat atau yang muncul setelahnya. Artinya bukan perasaan yang menjadi ukuran mengenai seberapa besar kita mengasihi, sebaliknya, itu lebih kepada tindakan.

Ini adalah berkaitan dengan bahasa, kultur, dan kebiasaan orang Ibrani yang cenderung memahami arti kata “kasih” sebagai ketaatan dalam melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Tuhan dalam konteks kasih kepada Allah; dan mengasihi manusia, berarti bahwa kita melakukan hal-hal sebagaimana kita menghendaki orang lain berbuat terhadap kita, seperti yang dikatakan oleh Yesus pada Matius 7:12. Dia berkata, “Lakukanlah kepada orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.” Jadi sekali lagi ada terdapat sedikit perbedaan orang di dalam mengartikan “kasih” tersebut.

Pierre: Kemudian bagaimana hubungan antara pengampunan dan kasih? Karena tidak mudah untuk mengampuni orang yang telah berbuat salah. Mungkin kalau satu kali dua kali, bisa diterima, tetapi, kalau sudah beberapa kali tentu sukar. Lantas bagaimana kita bisa melakukannya dengan benar? Apakah ada batasan seperti yang dikatakan oleh Yesus yaitu 70 x 7 kali? Dan itu, sekali lagi, tentunya bukanlah merupakan hal yang mudah, tetapi, apakah kita tetap harus mengampuni mereka, yang bersalah kepada kita, walaupun kita terinjak-injak? Terus terang saya kurang mengerti mengenai hal ini, dan ini juga terjadi di berbagai kalangan di dalam masyarakat, sehingga, akhirnya menjadi kebencian yang disimpan. Dengan kata lain, pengampunan, pada realitasnya, susah sekali dilakukan?

Naek: Ini pertanyaan yang lagi-lagi sangat bagus. Tentang pengampunan, ketika Tuhan Yesus mengatakan “70 x 7” kali, itulah yang kita sebut sebagai “numerical parallelism”. Artinya adalah bahwa ketika orang berbuat salah lagi kepada kita, maka kita pun perlu mengampuni mereka. Artinya, sampai kapanpun, mereka melakukan kesalahan, kita tetap mengampuni mereka. Alasannya adalah karena kita telah mendapatkan pengampunan dari Tuhan.

Alasan kedua adalah bahwa yang menjadi hakim bagi orang lain adalah Tuhan, bukan kita. Karena itu di dalam surat Roma, rasul Paulus mengatakan bahwa pembalasan adalah hak Tuhan (band. Roma 12:19). Karena nantinya akan ada penghakiman, sehingga Dia yaitu Tuhan sendiri yang akan melakukan penghakiman itu, apakah Tuhan akan melakukannya di dalam kehidupan kita sekarang dan kemudian ditambah lagi dengan penghakiman pada akhirnya, itu kita serahkan kepada Tuhan.

Akan tetapi, mungkin, yang menjadi pertimbangan adalah, apakah bijaksana jika kita mengampuni terus menerus atau membiarkan kesalahan orang secara terus menerus? Di sini lah dibutuhkan hikmat tentang bagaimana kita menghadapi persoalan-persoalan, dan bergantung kasus yang dihadapi (kasuistik). Namun pada prinsipnya, Tuhan mengajarkan kepada kita untuk membantu orang dengan cara mengajar dan menegur, dan itu tetap perlu untuk kita lakukan. Kita tetap perlu untuk memberikan nasihat, pandangan, membagikan perspektif kepada orang lain, sedangkan mengenai pembalasan, kita serahkan semuanya kepada Dia; begitu juga mengenai hukuman yang akan diberikan, kita pun harus menyerahkannya kepada Tuhan.

Kalau berkaitan dengan kriminalitas, maka kita perlu menyerahkannya kepada yang berwajib. Jadi ada jalur dan prosedurnya. Sebaliknya, kita tidak disarankan untuk membalas dendam, melakukan pembunuhan, atau main hakim sendiri. Artinya, secara pribadi, kita percaya bahwa Tuhan tetap mengontrol segala sesuatunya; bahwa Dia berdaulat; dan segala sesuatunya tetap ada di bawah kendali dan pengawasan Tuhan; dan segala sesuatu yang terjadi kepada kita, sebagaimana dikatakan di dalam Roma 8:28, adalah dapat mendatangkan kebaikan-kebaikan bagi kita, sekalipun niat orang yang berbuat adalah jahat sebagaimana Ayub dicobai oleh Iblis, atau, sebagaimana Yusuf diperlakukan oleh saudara-saudaranya dengan tidak baik berulangkali, namun Yusuf mengatakan, “Kamu mereka-rekakan yang jahat, tetapi Tuhan mereka-rekakan yang baik kepada saya.” Dalam bahasa Inggris dikatakan demikian: “You meant it for evil, but, God meant it for good.”

Jadi itulah yang penting bagi kita yaitu melihat dari perspektif Allah atau perspektif Alkitab mengenai bagaimana kita menyikapi persoalan-persoalan, kecurangan-kecurangan, atau ketidakadilan oleh orang lain. Apabila kita tetap di dalam koridor Tuhan, maka kita tetap percaya bahwa kita tetap berada dalam penyertaan dan perlindungan Tuhan; bahkan justru peristiwa-peristiwa yang terjadi dapat diubah oleh Tuhan sedemikian sehingga menjadi batu loncatan bagi keimanan dan karakter kita. Mungkin kita bisa menjadi lebih sabar lagi, lebih mengasihi dan lebih berhikmat lagi.

Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang maha mengetahui, maha mengasihi kita, dan maha mampu sehingga Dia dapat menggunakan berbagai hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita umat-Nya yang percaya kepada Dia.

Ikuti diskusi selengkapnya di Program Enrichment – Seminari Alkitab Media Sabda Biblika. Untuk registrasi, silahkan klik dan isi Formulir Registrasi Online. Tuhan memberkati.

WRITTEN BY: webadmin

No comments yet.

Leave a reply

Reset all fields