“Menyingkap Makna Teks dengan Konteks”
From July 4th, 2020

Ada beberapa hal yang menarik yang perlu kita lihat berkaitan dengan persepsi kita selama ini mengenai tulisan-tulisan yang ada di dalam Kitab Keluaran. Yang pertama adalah tentang Musa yang tampaknya enggan untuk menerima panggilan Allah. Dia mengatakan, “Saya tidak bisa berbicara!”, dan lain sebagainya (band. Keluaran 4:10). Dari teks tersebut banyak dari antara kita yang membacanya mengira bahwa Musa benar-benar tidak bisa berbicara, tetapi kenyataannya, di dalam kisah Musa, kita melihat bahwa dia sangat fasih. Pertanyaannya, apakah dia, yang tadinya tidak bisa berbicara, kemudian berubah menjadi fasih atau adakah penjelasan lain mengenai hal itu?

Hal seperti itu adalah gaya bahasa atau cara berkomunikasi orang-orang Ibrani. Itu adalah kebiasaan atau kultur mereka. Ketika mereka diminta untuk suatu (tanggung-jawab), mereka tidak akan langsung mengatakan bahwa mereka bisa atau layak. Mereka juga tidak akan mengatakan: “Saya memang mempunyai kualifikasi”. Ini sangat berbeda dengan kebiasaan kita.

Jadi, mereka, apabila diminta untuk suatu misi atau semacamnya, biasanya akan merendahkan diri terlebih dahulu. Istilah tersebut di dalam bahasa Inggris dikenal dengan “exaggerated humility”. Kita juga akan menemukan kisah-kisah serupa seperti kisah Gideon yang mengatakan “Saya tidak bisa. Saya kurang ini dan itu!” dengan tujuan untuk meyakinkan orang yang meminta, seberapa sungguh atau serius mereka menginginkannya. Dengan kata lain, mereka yang dimintai seperti ingin mengatakan, “Yakinkah Engkau meminta saya untuk memimpin bangsa Israel?”

Ini adalah latar belakang atau konteks budaya yang seringkali tidak kita sertakan di dalam pembacaan tulisan-tulisan Alkitab, sehingga, kita mengira bahwa Musa tidak pintar berbicara, padahal sebaliknya, dia sangat fasih. Dia menjadi hakim atas bangsa Israel yang begitu banyak. Lebih lagi sebelum dia mempunyai hakim-hakim atau lower-court (pengadilan yang lebih rendah), dia setiap hari membantu bangsa Israel sebagai hakim untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Kegiatan tersebut tentu membutuhkan komunikasi yang banyak. Jadi, tidak benar bahwa Musa tidak bisa berbicara, sebaliknya, kalimat penolakan yang disampaikan di awal tadi adalah merupakan gaya bahasa dari orang-orang Ibrani. Hal serupa juga akan sering kita temukan pada tokoh-tokoh lainnya di dalam Alkitab ketika mereka diminta oleh Allah untuk memimpin.

Satu hal lagi yang menarik dari komunikasi orang Ibrani, bisa kita lihat ketika Allah memanggil Musa. Waktu itu, ketika Musa berhadapan dengan teofani dimana Allah mengambil wujud dalam bentuk semak berapi tetapi tidak terbakar, Tuhan memanggil Musa dengan berkata: “Musa, Musa!” Ada dua kali nama Musa disebutkan oleh Allah. Ini juga adalah gaya bahasa atau cara berkomunikasi yang menunjukkan relasi di antara orang yang sedang berkomunikasi. Jadi ketika Tuhan mengatakan “Musa, Musa!”, itu menunjukkan adanya relasi yang dekat di antara Tuhan dengan Musa. Ekspresi seperti ini akan sering kita temukan di dalam Alkitab khususnya di dalam kitab Perjanjian Lama; dan bahkan di dalam Perjanjian Baru pun ada. Yesus juga pernah memanggil Simon dengan berkata: “Simon, Simon!”. Kemudian kita juga menemukan hal serupa ketika Tuhan memanggil Samuel. Ini, sekali lagi, menunjukkan relasi antara Tuhan dengan orang-orang yang Dia panggil atau pilih untuk menjadi nabi atau rasul. Artinya, itu menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai relasi yang dekat dengan mereka.

Kontrasnya dengan hal barusan ini, ada terdapat di Matius 7:20-23. Dikatakan di sana bahwa pada akhir zaman akan banyak orang berseru, “Tuhan, Tuhan!”. Dua kali nama itu disebutkan. Tetapi kemudian Tuhan merespon dengan mengatakan, “Aku tidak mengenal engkau.” Dengan kata lain, Tuhan seperti mengatakan, “Elu jangan sok dekat sama gua deh!” Meskipun mereka, orang-orang tadi, mengatakan bahwa mereka telah mengadakan mujizat demi nama Tuhan; bernubuat demi nama Dia, tetapi Tuhan mengatakan kepada mereka: “Sorry, Aku tidak mengenal engkau.”

Jadi dapat dimengerti bahwa tanggapan Tuhan tersebut berkaitan dengan cara mereka memanggil Dia. Mereka merasa bahwa mereka dekat dengan Tuhan tetapi Tuhan seperti mengatakan bahwa mereka memanggil Dia dengan cara yang tidak tepat. Ekspresi seperti ini akan sering kita temukan di dalam Alkitab.

Ikuti diskusi selengkapnya di Program Enrichment – Seminari Alkitab Media Sabda Biblika. Untuk registrasi, silahkan klik dan isi Formulir Registrasi Online. Tuhan memberkati.

WRITTEN BY: webadmin

No comments yet.

Leave a reply

Reset all fields